Kamis, 03 Februari 2011

The Forgotten War 1950-1953

PERTIKAIAN HEBAT DI SEMANJUNG KOREA
Angkasa Edisi Koleksi No. LVII 2009
Angkasa Edisi Koleksi No. LVII 2009
Meski rencana serbuan amfibinya dinilai berbahaya dan impossible, Douglas MacArthur tetap yakin pada pendiriannya. Meniru serangan Normandia, setelah mendarat di Inchon pada petang 13 September 1950, puluhan ribu tentara PBB langsung menggempur posisi Tentara Rakyat Korea Utara. Didukung Uni Soviet, mereka telah menguasai hampir seluruh wilayah Korea Selatan. Jenderal bintang lima yang mahir bertempur ini seolah tahu apa yang akan dilakukan lawan. Hanya dalam beberapa hari, 70.000 tentara Korea Utara telah mengepung Pusan berhasil dipukul mundur dan dikalahkan.
Gempuran dari arah belakang itu benar-benar niengagetkan tentara Korea Utara. Sama mengejutkan ketika tentara dan tank T-34 Korea Utara tiba-tiba melangkahi perbatasan Korea Selatan pada 25 Juni 1950. Baik pimpinan Korea Sclatan, AS, maupun PBB tak habis pikir, mengapa Korea Utara sampai berani menginvasi Korea Selatan. Biasanya yang terjadi hanya penyusupan kecil-kecilan. “Itu artinya perang melawan PBB seru Sekjen PBB Trygve Lie. Tampa kehadiran delegasi Uni Soviet dan China, sidang Dewan Keamanan digelar dan kontak senjata di Semanjung Korea pun berkobar.
Tentara AS pada Perang Korea
Tentara AS pada Perang Korea
Meski melibatkan kesatuan tempur darat, udara, laut dan marinir dari 22 negara dan menawaskan lebih dari lima juta perang, uniknya, perang Korea hanya dianggap sebagai angin lalu. Kenapa? Dalam Edisi Koleksi Angkasa The Forgotten War 1950-1953: pertikaian Hebat di Semanjung Korea ini, Anda akan menemukan jawabannya. Anda juga bisa mengikuti semua kisah pertempuran yang berlarut-larut sampai tiga tahun itu. Tentang perang laut dan keterlibatan pesawat tempur China yang mengganas di Lembah MIG. Nyatanya “perang” yang satu ini belum benar-benar berakhir, hingga kini. jangan lewatkan!
“In war, there is no substitute for victory”
~ Douglas MacArthur
 sumber  http://sejarahperang.wordpress.com
READMORE - The Forgotten War 1950-1953

Invasi, Dari Seoul ke Pusan (Jun-Sep 1950)

Kolonel Lee Hak Ku, Perwira operasi Korps II dari Inmun Gun atau Tantara Rakyat Korea Utara harus bekerja keras. Karena sejak 15 Juni 1950, sebagian besar divisi regular Korut telah digerakkan dari tempat masing-masing menuju posisi barn di sepanjang perbatasan garis Lintang ke-38, yang membelah Semenanjung Korea menjadi dua negara. Kolonel senior ini sibuk mengatur penempatan pasukan di lapangan maupun merampungkan pekerjaan administrasi yang menumpuk. Baru pads sabtu 24 Juni, ketika hari mulai gelap, Kolonel Lee dapat sedikit santai menikmati rokoknya. Sementara itu Panglima Inman Gun, Jenderal  Choi Yong Gun beserta stafnya juga lega atas keberhasilan pemindahan besar-besaran tentaranya secara diam-diam.
SELURUH pasukan yang dialihkan itu tak kurang dari tujuh divisi infanteri yang terdiri dari 90.000 personel (dari 138.000 tentara Korut), ditambah tiga divisi cadangan, satu brigade tank T,4 buatan Rusia, satu resimen pasukan bersepeda motor, satu resimen infanteri berdiri sendiri, dan lima brigade Bo An Dae atau pasukan penjaga perbatasan. Mereka didukung satuan senjata berat, baik meriam, howitzer, mortir clan sebagainya. Lebih ke belakang, pesawat tempur Yak dan pengebom-tempur Ilyushin disiapkan di pangkalan masing-masing. Para prajurit diberitahu bahwa mereka akan melakukan latihan perang, namun para perwira inti sudah paham bahwa yang bakal terjadi adalah perang betul.
Pada 22 Juni, keluar perintah operasi agar pasukan dari Divisi ke-1, ke-2, ke-3, dan ke-4 mengarahkan serangan ke koridor Uijongbu yang langsung menuju ibukota Korea Selatan, Seoul. Sebagai pembuka serangan adalah pasukan tank. Sedangkan divisi lainnya bergerak di wilayah timur. Sabtu malam 24 Juni, Kolonel Lee di posnya merokok terus seraya mendengarkan bunyi hujan yang mengguyur kawasan sekitarnva. la sulit memejamkan matanya yang sudah yang sudah memerah, karena tahu apa yang bakal terjadi dalam beberapa jam mendatang. Sampai memasuki subuh Minggu 25 Juni, gerimis masih jatuh dari langit.
dalam suasana serba dingin dan basah, tepat pukul 04.00 semua meria dan senjata berat lain yang disiapkan Inmun Gun, tiba-tiba bergemuruh, menghujani posisi Korsel dengan tembakan tanpa henti. Bunyi dentuman meriam dan ledakan peluru saling bersahut-sahutan. Tentara Korsel yang kebanyakan masih lelap dalam tidur, kaget dan berantakan memperoleh serangan tak dinyana ini. Pendadakan Korut ini memang berhasil karena pemindahan tentaranya ke perbatasan tidak pernah terdeteksi oleh Korsel maupun AS yang memiliki cukup banyak penasihat militer di Korsel. (Pada saat invasi dimulai pukul 04.00 Minggu 25 Juni waktu setempat, maka di Washington DC masih hari Sabtu 24 Juni pukul 15.00 sore).
Setelah hujan tembakan senjata berat mereda, Lee Hak Ku berkata, “Manzai”. Kata ini diulangi oleh para stafnya. Maka tank-tank pun mulai menderum, menggelinding maju, rantainya mencipratkan lumpur ke mana-mana, namun dengan mudahnya meluncur di tanah yang basah dan penuh genangan air. Di belakang tank-tank, pasukan infanteri dengan seragam coklat kekuningan berhamburan seraya berteriak-teriak mengobarkan semangat. Mereka cepat bergerak ke selatan, menyeberangi garis perbatasan.
Tank-tank Sekutu membalas serangan Korut setelah pads awal perang, pasukan AS dan Korsel dipukul mundur dari kawasan Chorwon. Ribuan peluru meriam Howitzer dan artileri ditembakkan oleh satuan 936th Field Artillery Battalion dalam operasi serbuan yang berlangsung sepanjang hari
Tank-tank Sekutu membalas serangan Korut setelah pada awal perang, pasukan AS dan Korsel dipukul mundur dari kawasan Chorwon. Ribuan peluru meriam Howitzer dan artileri ditembakkan oleh satuan 936th Field Artillery Battalion dalam operasi serbuan yang berlangsung sepanjang hari
Minggu 25 Juni 1950
Serangan utama tentara Korut adalah ke Lembah Ch’orwon yang menuju ke koridor Uijongbu, gerbang utama ke Seoul. Divisi ke-7 yang merupakan kekuatan satu-satunya Korsel di kawasan ini, langsung merasakan hantaman musuh. Sekitar pukul 08.30 seorang penviranva menghubungi Kementerian Pertahanan di Seoul via radio, meminta bantuan segera karena musuh terns merangsek maju, sulit ditahan. Apalagi pasukan Korsel tidak dilengkapi senjata anti-tank. Karena …..(BERSAMBUNG)

sumber  http://sejarahperang.wordpress.com
READMORE - Invasi, Dari Seoul ke Pusan (Jun-Sep 1950)

OHKA, Bunga Sakura yang Menakutkan


Kamikaze yang resmi dibentuk Laksdya Takijiro Ohnishi pada 20 Oktober 1944, dalam kenyataannya bukanlah hanya terdiri dari pesawat terbang bermuatan born yang ditabrakkan pilotnya ke kapal perang musuh. AL Jepang juga menyiapkan born terbang, berupa roket bermuatan peledak. Born terbang ini dijatuhkan dari sebuah pesawat pengebom. Begitu lepas dari pesawat induknya, mesin roket akan menyala dan melesatkan roket ke arah sasaran. Pengendalinya seorang pilot, karena sistem kendali radio waktu itu masih dalam pengembangan
Seorang letnan muda AL bernama Shohichi Ota dikenal sebagai pencetus gagasan born terbang ini. Ia berpikir, basil serangan bunuh diri dengan senjata ini akan jauh lebih besar dibanding pesawat terbang bermuatan born. Sebab kecepatan roket lebih tinggi dan muatan peledaknya pun lebih besar. Ota diketahui berusaha keras `menjual’ gagasannya kepada atasannya. Pada suatu hari pertengahan 1944, ia datang ke Laboratorium Riset Aeronautik AL dan menemui pimpinan bagian perancangan “Pesawat Masa Depan”, Letkol Tadano Mild, seorang perwira teknik yang andal.

Profil Ohka yang merupakan born terbang bertenaga roket yang dikendalikan seorang pilot. Sejumlah pesawat pengebom Jepang, Mitsubishi G4M2, yang bisa berfungsi sebagai penggendong Ohka sebelum diluncurkan ke target musuh.
Dalam pertemuan yang dihadiri pimpinan laboratorium Laksamana Misao Wada dan beberapa perwira peneliti lainnya, Letda Oka menjelaskan konsep born roketnya yang dapat dilepaskan dari sebuah pengebom serang Betty dari Mitsubishi. Propelan roket ini adalah kondensasi hydrogen peroxide dan hydrated hydrogen. Bahan bakar cair yang dikembangkan Mitsubishi ini telah dimanfaatkan AD Jepang guna mengembangkan roketnya. Ota mengatakan propelan ini pun dipakai Jerman untuk roket Komet. Tetapi Mild tak terkesan. “Ini orang pasti tolol. Beginikah yang ia sebut sebagai senjata baru?” pikir Mild.
Dikendalikan pilot
Mild lalu bertanya mengenai sistem pengendaliannya, namun Letnan Ota tidak segera menjawab dan malah tampak agak gelisah. Mild pun mengulang pertanyaannya, dengan menerangkan bahwa yang ia maksud adalah peralatan untuk memastikan bahwa roket akan tepat mengenai sasarannya. Ota lalu mengangguk dan menyahut. “Seseorang yang berada di dalamnya.” Mild tak percaya dengan apa yang ia dengar. “Apa,” teriaknya bercampur antara tidak percaya dan marah. “Kamu benarbenar idiot. Kita tidak akan pernah membuat barang semacam itu,” tambah Mild.

Sejumlah tentara Jepang sedang mengerumuni Ohka Glide Bomb di suatu tempat yang kemudian tidak jadi diterbangkan.
Wajah Ota memerah, tetapi berusaha tenang. Dia lalu mengingatkan betapa posisi Jepang dalam perang ini semakin mencemaskan. Musuh menguasai udara, dan Jepang tidak mungkin menghentikan kekuatan invasi musuh hanya dengan cara konvensional. “Rencana saya adalah menghancurkan armada kapal induk musuh dengan menabrakkan diri guna membalikkan situasi. Ini vital buat kelangsungan hidup negara kita. Karena itu kita harus membuat senjata ini”.
Perdebatan sengit itu berakhir ketika Letkol Mild bertanya kepada Ota. “Kamu menyarankan senjata ini ditabrakkan ke sasaran, tetapi siapa yang akan memilotinya.” Langsung Letnan Ota menjawab, “Tentu saja saya yang akan melakukan.” Seusai pertemuan, Mild curiga bahwa Laksmana Wada selaku pimpinan laboratorium riset AL diam-diam telah mendukung gagasan Ota, dan bahkan akan merekomendasikannya kepada jajaran lebih tinggi di Mabes AL.

Profil Ohka dalam kondisi utuh dan ditempatkan di museum Smithsonian, AS. Ohka Model 22 ini dibawa dari Jepang pada Desember 1945 dan baru masuk Smithsonian tahun 1948.
Ternyata benar. Wada meneruskan gagasan Ota kepada Departemen Aeronautik AL, yang langsung menindaklanjutinya. Akhirnya hal ini sampai ke kalangan pimpinan Staf Umum Mabes AL. Mereka tertarik karena senjata ini mungkin memang berguna dalam Operasi Sho yang akan dilancarkan untuk menahan invasi Amerika. Pertengahan Agustus 1944 keluar instruksi kepada Laboratorium Riset Aeronautik AL agar memulai produksi percobaan born roket yang diberi nama sandi Maru Dai. Maru artinya lingkaran, dan Dai yang juga bisa dibaca sebagai “0″, adalah untuk menghormati penemunya, Shoichi Ota. Mild pun menyerah.
Bunga ceri yang meledak
Bom terbang ini dirancang memiliki panjang 6,07 m, tinggi 1,16 m, dan rentang sayap 5,12 m. Roket sayap beratnya 140 kg, roket pada badan 360 kg, dan badan pesawat sendiri 440 kg. Bahan peledaknya mencapai 1.200 kg, sehingga berat seluruh born terbang ini 2.140 kg. Berbagai uji coba secara intensif dilakukan, termasuk oleh Tadano Mild, perwira teknik yang semula menentang keras roket untuk serangan bunuh diri tersebut.

Situasi dan peta Kanoya Air Base di Kyushu yang merupakan pangkalan bagi grup kamikaze Korps Dewa Guntur.
Satu-satunya soal pada Maru Dai adalah jarak jelajahnya, paling banter hanya mencapai 60 km. Padahal jarak terbang pesawat Amerika untuk melindungi kapal perangnya mencapai 90 km. Ini berarti sebelum cukup mendekati sasaran, pesawat pengebom pembawa Maru Dai dapat diserang oleh pesawat patroli musuh. Karena itu tak ada jalan lain, pesawat pengebom Jepang harus mampu menembus patroli pesawat Amerika, serta mencapai jarak hanya 25-30 km dari sasaran untuk melepaskan bom terbangnya. Untuk itu diperlukan pesawat pemburu guna melindungi. Awal September, dari fasilitas laboratorium AL yang dijaga keras kerahasiaannya, muncul dua pesawat bom roket yang telah selesai dibuat.
Keduanya khusus untuk uji coba terbang, dan diberi nama resmi Ohka atau “Bunga Ceri yang Meledak”. Pada kedua sisi hidungnya, digambari bunga ceri berwana merah muda atau pink. Uji terbang dengan dilepas dari pengebom Betty dinyatakan berhasil, termasuk sebuah Ohka yang mampu didaratkan kembali oleh pilotnya. Namun ada juga pilot yang tewas ketika gagal melakukan pendaratan. Setelah rangkaian uji coba, bulan November mulai dilakukan latihan bagi para calon penerbangnya.
Korps Dewa Guntur
Para pilot yang tergabung dalam Korps Dewa Guntur (Thunder Gods Corps) ini dipimpin Kolonel Motoharu Okamura, yang sejak awal terlibat dalam program pengembangan Ohka serta pembentukan korps penerbangnya. Okamura sejak pertengahan 1944 selalu mengusulkan cara serangan khusus terhadap armada Amerika. Istilah ‘serangan khusus’ ini adalah sekadar untuk menghaluskan kata `serangan bunuh dire. Januari 1945 datang utusan Kaisar ke pangkalan korps, menyatakan penghargaan atas semangat para pilotnya yang ketika itu sudah lebih dari 150 orang.

Dua pesawat pengebom Mitsubishi G4 M2.
Selanjutnya korps disebar, antara lain ke Jepang bagian selatan juga ke pangkalan di Taiwan dan Shanghai. Markas besar korps ini di pangkalan udara Konoya di Kyushu, Jepang bagian selatan. Korps saat itu selain sudah memiliki 162 Ohka dan 72 pesawat induknya, juga mendapat 108 pesawat Zero tipe Z-Serang khusus untuk serangan bunuh diri. Sementara itu persiapan invasi musuh semakin terasa. Pesawat Amerika terus melakukan pengintaaian dan serangan terhadap berbagai sasaran di Jepang, termasuk mulai memakai pengebom strategis B-29.
Tanggal 17 Maret, Laksdya Matome Ugaki selaku Panglima Armada Udara Kelima AL menerima laporan adanya armada musuh yang mendekati Kyushu. Ugaki terus memantau. Pada dinihari 18 Maret is memerintahkan menyiapkan serangan all-out. Tetapi hari itu tak kurang dari 1.460 pesawat Amerika mendahului menyerang. Seusai serangan itu, Ugaki meminta Korps Dewa Guntur melakukan aksi pertamanya. Namun gempuran hebat Amerika datang lagi, sehingga rencana Jepang berkamikaze dengan mengoperasikan Ohta pun gagal.
Tugas yang Gagal
Baru pada 21 Maret datang perintah resmi untuk misi pertama Korps Dewa Guntur. Persiapan segera dilakukan, dan Letnan Kentaro Mitsuhashi beserta 14 pitnya    tugas pertama menyerang dengan bom terbang.  Mereka memotong kuku dan rambut, menaruhnya dalam kotak kayu bersama surat perpisahan 7agi orangtua masing-masing.

Sejumlah pilot andalan dari Korps Dewa Guntur sedang berpose di depan pesawat Zero sambil mengembangkan tawa (hawah). Tugas sebagai pilot kamikaze yang diyakini sebagai wahana untuk menjaga kehormatan bangsa dan nasionalisme tidak menyebakan mereka takut mati tapi justru dilaksanakan dengan penuh kebanggaan.
Upacara pelepasan dilakukan, dihadiri Laksamana Ugaki, sementara komandan korps Kolonel Dkamura terbata-bata mengucapan selamat jalan kepada 15 anak buahnya. Pada giliran Mitsuhashi untuk berbicara, ia hanya mengatakan, “Saya tidak punya kata-kata lain untuk disampaikan. Marilah kita mati bersama-sama.”
Serangan bunuh diri pertama dengan “ledakan bunga ceri” ternyata gagal. Pilot pesawat Zero pengawal yang berhasil kembali dengan pesawatnya penuh lubang peluru menuturkan, bahwa mereka disergap oleh sekitar 50 pesawat Amerika. Sehingga dalam tempo 10 menit, sembilan pesawat induk Betty dan dua pengebom lain khusus untuk tugas serangan bunuh diri, rontok dari udara. Pesawat Zero pengawal berusaha melawan, tetapi kalah dan harus berpencar. Beberapa Betty terpaksa membuang Ohta mereka sebelum waktunya, agar lebih lincah menghindari serangan pesawat musuh. Pilot Zero tadi melaporkan pada akhirnya tersisa empat Betty, yang kemudian terlihat terbang rapat sayap ke sayap dan bersama-sama menukik ke laut.
Meskipun pada debutnya gagal total, tetapi serangan dengan Ohka terus berlangsung. Hasilnya pada umumnya kurang sesuai seperti yang diharapkan. Sehingg Amerika pun bahkan mengejek senjata Jepang itu dengan sebutan Baka atau ‘Gila’, Akhirnya pada 22 Agustus atau satu minggu setelah takluknya Jepang, Korps Dewa Guntur dibubarkan atas perintah Armada Udara Kelima AL yang telah ditinggalkan oleh panglimanya Laksamana Ugaki. Dia telah melakukan serangan bunuh diri terakhir ke arah Okinawa dengan pesawat pengebom-tukik pada 15 Agustus. Komandan korps Kolonel Okamura sibuk membakari dokumen korpsnya. “Segala apa yang pernah kita buat dan jalankan, kini tinggallah jadi sejarah,” ujarnya.
Nasib Shoichi Ota, penemu Ohka, sesudah perang berubah misterius. Ada yang menyebutkan ia sebetulnya bukanlah penemu senjata bom terbang tersebut, melainkan hanya boneka yang diperalat oleh sementara tokoh AL. Mereka ini malu dan takut apabila diketahui sebagai penggagas serangan bunuh diri dengan born terbang. Laporan lain menyebutkan Ota bersembunyi dan menyamar menjadi penduduk desa dengan berganti nama. Ada pula yang mengatakan ia pernah pinjam uang dari para mantan anggota Korps Dewa Guntur, tetapi lalu menghilang. Usaha melacaknya untuk keperluan sebagai sumber sejarah tidak pernah berhasil hingga sekarang. (rb)

sumber http://sejarahperang.wordpress.com
READMORE - OHKA, Bunga Sakura yang Menakutkan

KAMIKAZE JERMAN


Profil Bf-109 ketika terbang di udara.
Ketika pasukan Sekutu merencanakan untuk melancarkan pendaratan di Normandia lewat Operation Overlord atau D-Day pada bulan Juni 1944 pasukan Nazi Jerman sebenarnya sudah bersiap menyambutnya. Seluruh warga Jerman termasuk Hitler sudah menyadari jika operasi itu berhasil keberadaan negeri Jerman pasti terancam. Untuk menggagallcan Operation Overlord, pimpinan Angkatan Udara Nazi Jerman, Luftwaffe, Herman Goering diam-diam membentuk unit serangan bunuh diri layaknya kamikaze. Pesawat yang digunakan untuk misi kamikaze Luftwaffe itu adalah Focke Wulf 190 yang dimuati born seberat lebih dari 1.500 kg dan kemudian ditabarkan kepada targetnya.

Sejumlah Bf-109 dalam posisi siap terbang tengah disiagakan di salah satu pengkalan. Sebagai pesawat termpur legendaris, Bf-109 digunakan hingga PD II berakhir.
Menerbangkan FW-190 bermuatan born seberat lebih dari 1.500 kg bukanlah perkara mudah. Selain berbahaya, bahkan untuk take off dan landing saja sangat sulit. Karena itu, tidak ada seorang pilot pun yang berani menerbangkannya. Hitler yang kemudian mengetahui proyek kamikaze Luftwaffe tersebut malah marah dan memerintahkan untuk menghentikannya. Bagi Hitler adalah tidak pantas para pemuda Jerman sampai menjalankan misi bunuh diri dengan hasil yang akan sia-sia belaka. Program kamikaze FW-190 pun berhenti bahkan komandan yang bertanggungjawab dipindahkan ke pos yang lain. Namun ketika Operation Overlord yang dilancarkan Sekutu terny ata berhasil dan pergerakannya mulai menuju tanah Jerman para petinggi Nazi pun kaget. Hitler bahkan baru menyadari perlunya dibentuk kekuatan khusus untuk menghadang gerak maju pasukan Sekutu di front Eropa Barat.
Tiga psikopat Nazi
Untuk mencegah hancurnya negeri Jerman, Hitler lalu memerintahkan militernya menciptakan mesin perang yang paling menghancurkan guna menahan gerak laju pasukan Sekutu tersebut. Perintah Hitler langsung disambut baik oleh tiga tokoh Nazi Jerman yang terkenal sangat fanatik terhadap Hitler tapi juga dikenal sebagai tokoh psikopat. Ketiga orang itu adalah Hanna Reitsch pilot uji perempuan yang sangat populer dan pernah menjuarai berbagai perlombaan pesawat glider; Otto Skorzeny, jagoan strategi tempur yang beberapa kali sukses melaksanakan aksi khusus; dan Hans Joachim Hermann atau lebih dikenal dengan nickname Hajo Hermann pilot pengebom yang sangat berpengalaman serta dikenal pula sebagai pilot tempur malam (night fighter) paling profesional.

Profil pesawat kamikaze Nazi Jerman Fi-103 R-IV yang juga dikenal sebagai bom terbang.
Ketiga orang itu mengusulkan adanya pilot yang bertugas menyerang sasaran musuh dengan cara menabrakkan pesawatnya (suicide pilots). ‘de pilot yang bertempur dengan semangat fanatik itu ternyata terinspirasi oleh serangan kamikaze yang telah dilakukan pilot-pilot Jepang. Ketika dirunut dari latar belakang sejarahnya, kamikaze ternyata berkaitan erat dengan propaganda Nazi, totenritt atau death ride (perjalanan kematian). Dengan latar belakang seperti itu, ketiga tokoh psikopat ini kemudian menyampaikan idenya kepada Hitler.
Sewaktu ide kamikaze itu disampaikan kepada Hitler, orang nomor satu Nazi yang sesungguhnya sudah kehilangan akal itu ternyata sekali lagi menunjukkan keengganannya. Tapi akhirnya Hitler setuju dan memberikan catatan agar jangan sampai para pilot kamikaze Luftwaffe diterjunkan ke medan perang tanpa melalui persetujuannya. Skadron kamikaze pun kemudian dibentuk dan dinamai Leonidas Squadron dan menjadi bagian dari unit khusus armada pengebom Luftwaffe, Kampfggrupe-200 (KG-200). Dalam sejarahnya Leonidas merupakan pejuang masa Yunani kuno dan merupakan Raja Sparta yang hidup pada masa 480 BC. Sebagai raja yang juga ahli strategi tempur, Leonidas yang hanya memiliki 300 prajurit berkualifikasi khusus dan berani mati berhasil menghentikan serbuan pasukan Persia yang jumlahnya ribuan. Semangat bertempur hingga mati itulah yang menjadi spirit bagi pilot-pilot Leonidas Squadron.

Pesawat yang dibuat dengan meniru Ohka Jepang itu dikemudikan Web seorang pilot dan mampu melesat 650km/jam. Tampak pilot sedang membuka kokpit Fi-103.
Untuk menjalankan misi kamikaze, Leonidas Squadron menggunakan pesawat Fieseler Fi-103 Reichenberg yang juga merupakan varian dari roket Jerman yang digunakan untuk menghantam London, Inggris, V1. Sebagai pesawat kamikaze atau rudal yang dikemudikan orang, Fi-103 dilengkapi kokpit dan kemudi (flight control). Latihan untuk menerbangkan Fi-103 pun dimulai. Tapi latihan yang berisiko tinggi itu justru menghasilkan petaka. Dua pilot sukarelawan yang melaksanakan test flight terhadap Fi-103 tewas. Akibatnya tak ada sukarelawan yang bersedia untuk menerbangkan Fi-103 yang sudah dirancang dan dijagokan sebagai pesawat kamikaze. Namun, Hanna Reitsch yang telah kenyang pengalaman melaksanakan test flight tanpa ragu-ragu mengajukan diri untuk menerbangkan Fi-103 dan sukses. Tak hanya itu, Hanna Reitsch juga langsung mendaftarkan diri sebagai pilot kamikaze bagi Leonidas Squadron.
Berkat Hanna Reitsch yang sukses menerbangkan F1-103 sekaligus langsung mendaftarkan diri sebagai pilot kamikaze, para pemuda Jerman yang semula raguragu pun langsung terpengaruh. Lebih dari 70 pemuda Jerman secara sub rela mendaftarkan diri dan siap mati. Pelatihan sebagai pilot kamikaze pun mulai dilakukan diikuti produksi pesawat Fi-103 hingga mencapai 24 unit. Tapi dalam latihan terbang kamikaze para pilot Leonidas Squadron tidak didoktrin untuk menabrakkan diri ke target musuh melainkan diupayakan segera melaksanakan bail out begitu Fi-103 yang diterbangkan arah terbangnya sudah secara akurat menuju sasaran musuh.
Dalam praktiknya, bail out dalam kecepatan tinggi itu sebenarnya sulit dilakukan dan kemungkinannya kecil bagi pilot yang melompat untuk berhasil selamat. Yang jelas apa yang diajarkan kepada para pilot Leonidas Squadron memang berbeda dibandingkan dengan doktrin kamikaze Jepang. Para pilot kamikaze Jepang secara spiritual meyakini kematiannya sebagai tindakan heroik dan wujud kesetiaannya terhadap Kaisar sedangkan bagi Nazi Jerman, misi kamikaze yang akan dilancarkan oleh Leonidas Squadron sebagai tindakan sia-sia karena berakibat pada berkurangnya jumlah pilot Luftwaffe secera drastis. Selain itu, misi kamikaze yang hanya berdasar pada semangat fanatik plus psikopat dan sama sekali tidak ada unsur spiritualnya jelas akan merupakan tindakan konyol. Karena para pejabat Luftwaffe dan Hitler sendiri masih merasa jatuh kasihan, para calon pilot kamikaze Leonidas Squadron akhirnya tidak pernah dizinkan untuk terjun ke medan perang.
Skadron Kamikaze Baru
Ketika posisi Nazi Jerman betul-betul terdesak oleh kekuatan Sekutu khususnya ribuan pesawat pengebom yang terus-menerus menyerang daratan Jerman, semangat untuk membangkitkan serangan kamikaze muncul lagi. Merasa ada kesempatan, Hajo Hermann yang dulu bersama
dua rekannya pernah membentuk Leonidas Squadron lalu menemui komandan pilot buru sergap (Head of The Fighter Command) Luftwaffe, Marsekal Adolf Galland. Di hadapan Marsekal Galland, Hajo Herman kemudian memaparkan rencananya untuk membangun lagi skadron kamikaze. Tapi ide Hajo Herman langsung ditolak mentah-mentah oleh Galland karena misi kamikaze untuk menyergap pesawat pengebom Sekutu yang dikawal ketat ratusan pesawat tempur akan sangat sulit dilakukan. Galland sendiri meragukan kemampuan dan pemahaman Hajo Herman dalam teknis buru sergap pesawat tempur mengingat pilot yang terkenal nekat itu lebih banyak menerbangkan pesawat pengebom. Hajo Herman yang kecewa berat lalu menemui komandan Luftwaffe Marsekal Herman Goering yang pernah menjadi mentornya di unit pengebom Luftwaffe.

Pilot-pilot Fw-109 Nazi Jerman sedang berjalan di depan deretan pesawat Fw-109 di salah satu pangkalan di Perancis. Sebagai pesawat tempur andalan Luftwaffe. Fw-109 kemudian difungsikan untuk serangan kamikaze.
Sebelum Hajo Herman menghadap Galland dan Goering, dua petinggi Luftwaffe ini sebenarnya bak musuh dalam selimut. Sebagai Marsekal yang dibesarkan oleh unit pengebom Goering merasa dirugikan oleh dominasi pesawat tempur yang berakibat pada dihentikannya produksi pesawat pengebom. Sebaliknya produksi pesawat tempur terus ditingkatkan bahkan para teknisi pesawat pengebom dipindahkan ke pabrik pemroduksi pesawat tempur. Sekarang, ketika  posisi Nazi Jerman makin terdesak, kesempatan itu dimanfaatkan oleh Goering untuk menjatuhkan semua penyebab kehancuran Luftwaffe kepada penanggung jawab komandan tertinggi pilot tempur Luftwaffe. Dalam kondisi di ambang kehancuran itu Galland memang tidak bisa berbuat banyak dan jika Hajo Hermann menemui Goering dengan rencana membentuk skadron kamikaze, ada kemungkinan rencana itu akan dikabulkan.
Sewaktu Hajo Herman mengajukan rencana tentang pembentukan skadron kamikaze kepada Goering, orang ketiga di tubuh Nazi Jerman itu sangat terperanjat karena pilot-pilot Lutfwaffe tidak pernah didoktrin untuk melancarkan serangan bunuh diri. Selain itu ada faktor lain yang juga makin membuat Goering pesimis karena infrastruktur Luftwaffe sudah lemah dan pilot yang bersedia menjadi pilot kamikaze belum jelas. Ide pilot kamikaze bahkan membuat perasaan Goering tidak enak karena cara kamikaze itu seolah mencerminkan dirinya tidak memiliki strategi lain yang lebih baik. Tapi ternyata tak ada pilihan  lain bagi Goering yang pada awal serbuan Sekutu di Normandia pernah membentuk Skadron Bunuh Diri. Untuk menjawab ya atau tidak, Goering memutuskan hams menemui Hitler terlebih dahulu. Marsekal Goering sebenarnya ragu karena Hitler pernah marah besar pada Skadron Kamikaze FW-190 yang pernah dibentuknya.

Marsekal Adolf Galland dalam penampilan khasnya dan saat itu masih berpangkat mayor penerbang.Galland yang memiliki peliharaan anjing dan gemar mengisap cerutu berpakaian lengkap dan mengenakan jaket yang merupakan rampasan dari pilot Inggris yang tertawan. Galland termasuk tokoh yang tidak menyetujui adanya pilot kamikaze.
Kali ini Hitler ternyata menyetujui dibentuknya skadron kamikaze. Meskipun dengan perasaan berat hati dan pesimis apalcah bisa memperoleh pilot yang mau melaksanakan misi kamikaze, Goering akhirnya memaksakan diri untuk membentuk skadron bunuh diri. Goering pun mulai melaksanakan seleksi terhadap calon pilot kamikaze yang minimal memiliki pengalaman 50 jam ter-bang. Pendaftaran untuk menerima sukarelawan kamikaze pun dibuka tepatnya pada bulan Maret 1945. Di luar dugaan sukarelawan yang mendaftar ternyata mencapai jumlah 2.000 orang. Jumlah ini sangat mengagetkan Goering karena kini di hadapannya berdiri ribuan orang yang siap memberikan nyawanya demi negeri Jerman yang sesungguhnya tidak mungkin pilot andalan bagi 303rd Bombardment Group. Jika pesawat bomber yang dipiloti oleh Werner berhasil dijatuhkan oleh kamikaze Nazi is akan kehilangan anak buah dan sekaligus seorang keponakan.
Dengan jumlah calon pilot kamikaze yang mencapai angka ribuan Goering pun meminta Luftwaffe agar menyiapkan sedikitnya 1.500 unit pesawat tempur. Tapi jumlah seperti itu mustahil dipenuhi karena semua kekuatan udara yang dimiliki oleh Luftwaffe di semua front tinggal 800 pesawat. Itu pun dengan suku cadang dan bahan bakar yang kurang memadai. Akhirnya hanya tersedia 180 pesawat bagi unit kamikaze dan rata-rata merupakan pesawat tua yang selama ini tidak lagi dioperasikan oleh Luftwaffe Me 109G-10, G-14, dan K-4.
Untuk melindungi pesawat-pesawatnya kamikaze itu dikerahkan pesawat tipe Me-262 dan FW-109 tapi jumlahnya sangat terbatas. Karena waktu untuk melaksanakan misi kamikaze tinggal sedikit, 24 pilot Kamikaze hanya menjalani latihan selama dua minggu dan selanjutnya diperintahkan untuk segera menyerang pesawat-pesawat pengebom AS.
Serangan kamikaze
Sebelum para pilot kamikaze diperintahkan terbang, Goering memberi pesan agar misi mereka bukan murni kamikaze. Caranya
adalah terbang di ketinggian lalu menyergap bomber AS dari atas sambil menghujani tembakan. Jika pesawat bomber yang disergap masih tetap terbang selanjutnya pesawat penyergap diarahkan ke bomber dan menempel sedekat mungkin pada posisi rear gun bomber. Lalu dengan menggunakan baling-balingnya para pilot Nazi diperintahkan untuk memo-tong sayap bomber yang sekaligus merupakan tempat mesin dan bahan bakar. Dalam kondisi sayap terpotong, bomber AS dipastikan oleng dan jatuh.

Konvoi bomber Sekutu Consolidated B-24 Liberator sedang dalam penerbangan menuju wilayah Jerman.
Cara itu meskipun sulit dilakukan bisa memberi kesempatan pilot Nazi untuk bail out jika pesawatnya turut mengalami kerusakan atau tertembak. Sementara dua sasaran lain yang disarankan Goering untuk menjatuhkan bomber AS adalah menggesek sayap ekor yang merupakan pengontrol ketinggian dan penggerak utama rudder pesawat. Cara ini dianggap paling aman kendati pesawat kamikaze Nazi mudah tertembak senapan mesin bomber. Sedangkan cara ketiga adalah menghantamkan langsung pesawat ke kokpit bomber dengan peluang untuk bail out sangat kecil. Cara ketiga bisa dikatakan merupakan kamikaze murni karena baik pesawat bomber maupun kamikaze Nazi akan sama-sama hancur lebur.

. Sementara untuk menghadang bomber Sekutu Luftwaffe menyiapkan penyergap BF-109 G.
Kendati dalam kondisi makin terdesak dan waktu yang makin menipis Goering masih sempat membentuk 3 Wing Kamikaze dengan jumlah pesawat Bf 109 sebanyak 60 unit. Pesawat jenis Bf 109 sengaja dipilih untuk melancarkan serangan kamikaze ala Nazi itu karena selain memilild dua senapan mesin khusus, fuselage dan bilah baling-balingnya terbuat dari baja. Tiga Wing kamikaze yang dinamai Sonderkommando Elbe itu akan bertugas menyergap konvoi bomber AS yang akan melaksanakan bombardemen di atas Berlin. Komandan Sonderkommando Elbe, adalah Mayor Otto Koehnke yang juga rekan akrab Goering sejak tahun 1940.
Koehnke pernah berjaya di front Rusia dengan keberhasilan menghancurkan 12 kereta api logistik sehingga berhak menyandang Knight Cross. Tapi Koehnke sempat mengalami kecelakaan serius sehingga kehilangan salah satu kakinya dan dibebastugaskan sebagai pilot tempur. Kini dengan salah satu kaki palsunya dan menyandang Knight Cross, Koehnke kembali bertugas bukan untuk meraih prestasi melainkan untuk menyerahkan nyawanya. Dengan melihat kenyataan bahwa komandan Sonderkommando Elbe bukan lagi orang yang utuh tubuhnya, Goering akhirnya mengambil alih komando.
Setelah melakukan persiapan termasuk memimpin briefing bagi para pilot tentang misi terakhir yang akan dijalankan, perintah untuk mencegat armada bomber AS pun tiba. Pada 7 April 1945 sebanyak 1.260 bomber (B-17 dan B-24 Liberator) AS yang dikawal 780 pesawat tempur jenis Mustang dan Thunderbolt yang berpangkalan di front Eropa Barat bergerak serentak untuk membombardir daratan Jerman. Konvoi ribuan pesawat tempur AS pembawa maut itu diamati secara cermat oleh Goering melalui radar. Ketika ribuan pesawat tempur AS itu mulai memasuki wilayah Belanda dan untuk selanjutnya memasuki ruang udara Jerman, Goering memerintahkan pilot-pilot kamikazenya untuk stand by.
Ketegangan dan kemasygulan pun menyelimuti wajah Goering karena kekuatan pesawat-pesawat kamikazenya jauh dari memadai. Hanya tersedia 120 pesawat dengan bahan bakar pas-pasan dan sejumlah pilot bahkan tampak kebingungan karena tak mendapatkan pesawat. Walaupun sudah menjalani briefing, strategi dan organisasi tempur untuk menyergap bomber-bomber AS belum jelas sehingga koordinasi dan komando di lapangan turut kacau. Tapi meskipun dalam kondisi yang masih kacau dan kurang koordinasi, tak ada pilihan lain bagi Goering untuk memberikan perintah terbang bagi para pilot kamikaze ketika pesawat-pesawat AS mulai memasuki ruang udara Jerman.

Sejumlah bomber B-17G dari unit 381 st Bomb Group yang baru saja melancarkan misi serangan dari Jerman tampak dikawal oleh satu unit pesawat tempur P-51 B . Pesawat P-51 B merupakan penyergap yang ditakuti pilot-pilot tempur Nazi Jerman.
Tepat pukul 11.15 Goering menembakkan pistol suarnya sebagai tanda dimulainya penyergapan terhadap pesawatpesawat bomber AS. Pesawat-pesawat kamikaze Nazi Jerman yang dipimpin oleh Hajo Hermann dan dikawal oleh 59 Me262 dan FW-109 pun melesat ke udara yang saat itu sedang mendung sehingga menjadi penghalang yang serius bagi pilot-pilot Nazi dalam menentukan sasarannya.
Ketika pesawat-pesawat kamikaze Nazi Jerman tengah berada di udara, inasih ada jarak sekitar 100 km untuk bertemu dengan armada bomber dan pesawat tempur AS. Semua pilot kamikaze Nazi memusatkan perhatiannya ke cakrawala untuk mencari-cari datangnya armada bomber AS . Untuk memompa semangat bagi para pilot yang hari itu kemungkinan besar akan kehilangan nyawanya radio pesawat mengumandangkan lagu-lagu patriotik dan lagu kebangsaan yang dinyanyikan oleh seorang biduanita.
Tapi pada kenyataannya untuk menemukan bomber AS yang jumlahnya ribuan ternyata tak mudah. Sejumlah pilot yang kurang pengalaman bahkan kehilangan navigasi, kehabisan bahan bakar dan terpaksa bail out. Sejumlah pilot lain bahkan bertemu dengan armada Mustang dan ditembak jatuh sebelum sempat beraksi. Kendati pesawat-pesawat tempur Nazi Jerman bisa terbang lebih tinggi tapi jejak asap mesinnya (contrail) bisa dideteksi pesawat-pesawat tempur AS sehingga mudah dijadikan sasaran tembak. Dalam waktu dua menit dua Bf-109 berhasil ditembak jatuh Mustang sehingga menimbulkan kepanikan bagi yang lainnya.
Namun kali ini para pilot tempur dan pengebom AS melihat teknik baru saat pesawat-pesawat tempur Nazi Jerman menyerang. Ketika dua Bf-109 menyerang pengebom dan dikawal oleh Me-262 dan langsung dicegat oleh Mustang terjadi pemandangan tak lazim Salah satu Bf-109 tiba-tiba menghujamkan diri ke salah bomber AS tepat di salah satu sayapnya disusul oleh pilot yang bail out. Bomber Liberator pun oleng dan terus menukik menghujam ke tanah Melihat cara menyerang pesawat-pesawat tempur Nazi Jerman yang nekat dan sulit dicegah itu, para pilot AS sadar bahwa pilot-pilot Nazi Jerman sedang mempraktikkan cara bertempur di udara yang baru.

Ilustrasi yang menggambarkan kesiapsiagaan para pilot Lutfwaffe setelah pasukan Sekutu berhasil merebut Perancis dan pasukannya terus bergerak maju menuj u Eropa Barat. Jerman kemudian menyiapkan skadron berani mati untuk menghadang bomber Sekutu
Sementara bagi Mustang juga sulit untuk menembak karena bisa mengenai teman sendiri. Salah satu korban serangan kamikaze Jerman adalah bomber yang dipiloti oleh Kolonel John Herboth dari 389 Bomber Group. Saat itu Bf-109 yang dipiloti Sersan Heinrich Rosner berhasil menggasak salah satu sayap bomber Kolonel Herboth Dalam kondisi Liberator yang terbang oleng, Herboth berusaha menstabilkan pesawatnya. Tapi gagal. Bomber Herboth yang terjun bebas bahkan menghantam bomber lain yang dipiloti oleh Letkol Kunkel hingga kemudian membuat keduanya meledak terbakar. Sementara itu, Rosner ternyata berhasil bail out sambil menyaksikan dua bomber yang menjadi korban kamikazenya meluncur jatuh menghujam tanah.
Lewat tengah hari (12.30) bentrokan antara pesawat-pesawat AS dan kamikaze Nazi berlangsung makin seru. Pilot-pilot kamikaze yang bertempur dengan rasa frustrasi karena menghadapi musuh yang terlalu banyak juga makin menunjukkan kenekatannya. Satu lagi Bf-109 berhasil menggasakkan diri ke Liberator sehingga langsung terbakar dan menukik jatuh. Satu Bf-109 yang terus dihujani tembakan dari Liberator hingga bodi pesawatnya penuh lubang bahkan berhasil mendekati Liberator lainnya dan menggasakkan diri tepat di kokpit. Ledakan hebat disusul kokpit yang menganga rontok mengakibatkan Liberator meledak  terbakar dan meluncur jatuh. Para pilot Liberator yang menyaksikan pesawat jatuh masih berharap ada parasut mengembang dari rekan yang selamat.
Aksi nekat kamikaze Nazi Jerman diwarnai aksi dua rekan akrab yang sama-sama bersepakat untuk menabrakkan diri pada satu bomber dan mati bersama. Tapi salah satu pilot berhasil bail out dan mendarat selamat meskipun terdapat 19 lubang peluru di parasut dan jaketnya. Kisah-kisah heroik di tengah aksi nekat kamikaze Nazi Jerman terus saja berlangsung. Tapi hingga menjelang sore hari dan seluruh pesawat bomber AS dan pelindungnya akhirnya kembali lagi ke pangkalan, perlawanan kamikaze Nazi ternyata tidak menimbulkan efek yang berarti. Dan 120 pilot Rammkommando Elbe yang dikerahkan untuk melancarkan serangan kamikaze hanya tersisa 15 pilot yang hidup. Sedangkan bomber AS yang berhasil dijatuhkan hanya sekitar 13 unit. Jumlah yang sangat kecil mengingat bomber yang dikerahkan mencapai ribuan unit. Namun demikian kendati aksi kamikaze Nazi Jerman itu tidak mampu mengguncang kekuatan udara Sekutu mereka tetap dikenang dan dihargai. Luftwaffe kemudian membuat monumen khusus untuk mengenang para pilot muda yang gugur dan telah berbakti kepada negaranya hingga tetes darah terakhir. (win)

sumber http://sejarahperang.wordpress.com
READMORE - KAMIKAZE JERMAN